about ME

Foto saya
samarinda, kalimantan timur, Indonesia
nama saya eva nurjannah, saya tinggal dan dibesarkan di kota samarinda . saya juga seorang KPOPERS :) Saya ELF, SHAWOL, A+, Cassiopeia, etc

Minggu, 25 Desember 2011

Kehidupan lebih enak di zaman orde baru !

Dalam kurun waktu empat tahun terakhir, saya ketika mengunjungi kota Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Makasar, Manado, dan Jayapura melihat perusahaan nasional dan  multinasional yang berkantor di beberapa sudut kota setempat. Perusahaan-perusahaan yang mempunyai gedung megah tersebut dapat dikatakan sebagai ikon globalisasi dan keberhasilan pembangunan yang cakupannya telah mencapai wilayah paling timur Indonesia pula. Namun, tidak jauh dari gedung megah dan mewah, kesenjangan nampak nyata yaitu kemegahan gedung dan  kekumuhan yang identik dengan kemiskinan yang berebut menempati sudut-sudut kota.
Untuk menangkap (capture) apa yang dirasakan masyarakat miskin di kota provinsi tersebut, saya mengajukan pertanyaan utama (ngobrol informal) kepada orang yang berpenampilan miskin (diduga miskin), "Bagaimana kemudahan di masa sekarang dibanding 10-15 tahun lalu dalam memenuhi kebutuhan hidup dasar (sandang, pangan, papan)?" Jawabannya dari beberapa orang di tiap kota menyatakan lebih mudah 10-15 tahun yang lalu, kecuali di Jayapura menyatakan lebih mudah setelah adanya dana otonomi khusus sejak tahun 2002. Meskipun hanya beberapa responden yang saya wawancarai (sampel) tidak mewakili dari populasi, namun dengan wawancara mendalam dapat digali informasi orang miskin merasa lebih mudah memenuhi kebutuhan primer di masa Orde Baru.
Saya tertarik mewancarai penduduk miskin karena kebutuhan orang miskin dalam tingkatan Hirarki Kebutuhan Abraham Maslow di tingkat untuk memenuhi kebutuhan primer dan sekunder, perubahan kebebasan dan demokrasi di era reformasi bukan tingkatan kebutuhannya. Sedangkan populasinya juga masih banyak, menurut data BPS 2010 penduduk miskin plus hampir miskin yang layak menerima beras miskin 70 juta jiwa. Kebutuhan mereka belum mencapai tingkatan akan kebutuhan harga diri (esteem needs), apalagi aktualisasi diri (self actualization). Sehingga kebebasan berpendapat, pemilihan kepala daerah di masa sekarang yang lebih demokratis belum menjadi kebutuhan mereka. Kebutuhan yang menjadi prioritas orang miskin sandang, pangan, papan lalu meningkat keinginan memenuhi kebutuhan makanan bergizi dan pendidikan anak plus kebutuhan akan hiburan nonton TV di malam hari setelah siang lelah bekerja.
Kemudahan memperoleh penghasilan dalam memenuhi kebutuhan dasar di masa sekarang  akan lain hasilnya jika ditanyakan kepada golongan menengah yang populasinya 25,08 juta jiwa dengan pendapatan US$ 5.356 (Rp 48,25 juta) per tahun atau  golongan atas yang terdiri 8,36 juta jiwa rata-rata penghasilannya US$14.198 atau Rp127,9 juta per tahun. Apalagi ditanyakan kepada para PNS yang telah mendapatkan remunerasi dan masuk golongan atas di antara 8,36 juta jiwa, tentu menyatakan lebih enak di masa sekarang dibanding Orde Baru.
Data makro (data BPS) jumlah kelas menengah dan atas tumbuh cepat, sementara kelas bawah tumbuhnya lambat, bahkan cenderung stagnan. Kesenjangan jumlah, disparitas pendapatan melebar, antara penduduk miskin dan menengah ke atas (kaya). Artinya pertumbuhan ekonomi dan prestasi pembangunan hanya dinikmati golongan menengah hingga golongan atas.
Saya lihat daerah-daerah kantong industri kecil di Bandung dan Sidoarjo yang dulu merupakan kekuatan penopang perekomian di masa krisis moneter kini telah bangkrut. Mereka yang dulu membuat barang (produsen) kini alih profesi berjualan (konsumen) produk dari China. Pertumbuhan ekonomi pada beberapa tahun terakhir yang ditopang dari sektor perdagangan bukanlah pertumbuhan yang didukung oleh pondasi ekonomi kuat atau tumbuh berkelanjutan (sustainable growth). Sehingga apabila dalam beberapa tahun mendatang ada kiris moneter lagi, maka dampaknya akan lebih hebat dan butuh waktu yang lama untuk bangkit daripada krisis moneter 1997/1998 yang perekonomian masih ditopang sektor industri.
Prestasi di bidang ekonomi yang semu dengan capaian pertumbuhan dari angka-angka statistik. Di antaranya, pendapatan per kapita meningkat namun peningkatan didominasi  dari peningkatkan pendapatan kelompok menengah dan atas. Nilai tukar mata uang Rupiah yang kuat terhadap dollar AS mulai akhir tahun 2010 hingga kini 2011. Kuatnya nilai tukar adalah karena derasnya arus modal masuk (capital inflow) dari negara maju sebagai akibat dari kebijakan pelonggaran moneter (Quantitative Easing) di negaranya, bukan hasil kinerja ekonomi secara menyeluruh. Kuatnya nilai tukar Rupiah sekarang mendorong impor daripada ekspor, apalagi industri dalam negeri sedang mengalami kebangkrutan. Produk Indonesia juga akan berkurang daya saingnya di tingkat global. Padahal komoditas ekspor manufaktur merupakan penopang ketahanan Neraca Pembayaran Indonesia selama ini.
Pondasi rapuh, apabila satu atau dua tahun lagi ada krisis keuangan dampaknya akan sangat hebat. Peluang partai-partai menjual programnya. Demi berebut populasi penduduk miskin yang 70 juta jiwa (jika mereka merasa lebih mudah memenuhi kebutuhan hidup di masa Orba). Di antaranya Partai Nasional Republik tahun 2014 nanti dengan membawa komoditas program perekonomian mirip masa Orba dengan tema slogan kira-kira, "Isih Enak Jamanku" [Gubrakkk... hanya mimpi di siang bolong].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar